Will you?

Ayah, jika engkau masih ada, akankah engkau membela dan melindungi putrimu ini? akankah engkau meminjamkan punggungmu tuk cha bersandar? Ayah temani cha menghadapi semuanya, cha ngga boleh lari kan yah? Miss u ayah…

@CCM, 8 Desember 2011

Pendidik atau pengajar?

Dunia akademik? Rasanya aku tak bisa jauh dari dunia ini sekarang, entah itu aku menjadi peserta didik atau aku menjadi pendidik/pengajar. Begitu menyenangkan berkecimpung di dunia akademik ini. Dulu, sama sekali tak pernah terbayangkan aku menjadi bagian dari dunia akademik tapi sekarang aku ngga mau jauh dari dunia ini. Dunia yang menghantarkan kita untuk lebih membuka wawasan dan pengetahuan untuk melihat dunia. Sungguh menyenangkan dan begitu berjasa orang-orang yang berkecimpung di dunia akademik atau pendidikan. Semoga aku juga tetap dapat berkarya dalam dunia akademik ini walaupun sumbangsihnya hanya kecil, belum seberapa.

Beberapa cita-cita untuk terjun di dunia akademik ini beberapa waktu kemaren sempat terhenti, tapi itu adalah pelajaran berharga. Semoga semua ada hikmahnya. Sekarang aku memulai merintis untuk tetap berada dan berkecimpung di dunia akademik ini. Dan semoga langkah ini bisa menghantarkan untuk mencapai cita-cita yang sempat tertunda amin.

Memulai dengan membuka 3V Education, menjadi pengajar dan pendidik, semuanya masih merintis, dan semoga aku sabar menjalaninya amin. Bahagia ketika satu murid datang, semakin hari semakin bertambah…sungguh alhamdulillah, semoga Engkau meridhoinya ya Rabb, amin.

Inilah jargon yang sedang aku gembor-gemborkan dalam diri :

Echa…
Belajarlah dalam kesabaran Ayub
Berjalanlah bersama keberanian Ibrahim
Bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman
Taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa
Himpunlah semua kebijaksanaan Yakub
Katakanlah kebenaran semerdu suara Daud
Kasihilah sesama sepenuh cinta Isa
Lalu masukilah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad
(Inspired by Fahd Djibran)

Semoga engkau melihatku ayah, aku kangen ayah…

My Sweet Home, 02 Desember 2011

Pidato BJ. Habibie, 1 Juni 2011

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:
(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Diambil dari sini : http://m.detik.com/read/2011/06/01/113343/1651577/10/pidato-lengkap-bj-habibie-yang-memukau

Touring Jabotabek

Tiada yang sia-sia dalam sebuah perjalanan…

Tiga hari yang terasa hebat dan seperti mimpi di kehidupanku, 6-8 Mei 2011, aku menjelajah jabotabek sendirian (walaupun secara harfiah tidak sendirian karena aku di guide oleh saudara-saudaraku disana). Persiapan yang mendadak karena baru mendapatkan approval hari selasa dan aku harus berangkat jumatnya. Sungguh waktu yang teramat cepat, belum lagi aku harus melawan traumaku bepergian jauh menggunakan bus, tapi alhamdulillah semuanya terselesaikan semoga dengan baik dan benar.

Dimulai jumat subuh dimana aku harus bangun pagi dan mempersiapkan diri melakukan perjalanan 3 hari ini, berangkat menuju ke terminal leuwi panjang karena memang aku sudah berniat menggunakan bus. Rute awalnya adalah bogor-tangerang-bekasi-slipi. Makanya aku menggunakan bus bandung-bogor untuk menempuh rute pertamaku. Aku sudah tidak menginjakan kaki di bogor, jakarta dan sekitarnya sekitar 3 tahun, terakhir itu tahun 2008 ketika aku training seminggu di MABESAD. Wah, tak terasa lama banget aku tak berkunjung kesana, cuma jago kandang aja ditemani si merah :) . Setelah bus berada di cibubur, aku mengsms adeku yang mau menjemput di terminal barangsiang dan ternyata dia sudah standby disana, lega banget perasaanku waktu itu. Akhirnya menepi di barangsiang pukul 11.10. Lucu kejadian di terminal ini, aku dan adeku itu berpelukan melepas kangen karena memang sudah lama tidak bertemu, sampai orang-orang di sekitar kami memperhatikan kelakuan kami, tapi kami cuek aja toh memang sudah lama kami tidak bersua. Perjalanan berlanjut ke rumah adeku, lumayan sih sekitar 1 jam dari barangsiang. Aku mulai kepanasan dengan udara di sekitarku. Setelah berbincang, aku meneruskan perjalanan rute keduaku ke tangerang, adeku itu mengantarkanku sampai daerah pasar ciputat dan selanjutnya aku meneruskan perjalananku sendiri, alhamdulillah sampai ke rumah saudaraku itu. Karena berhubung sudah menjelang maghrib dan hujan, aku akhirnya menginap disana. Semalam menginap berasa seminggu karena aku tidak dapat memejamkan mataku, pertama karena panas, kedua nyamuk, ketiga aku tidak nyaman ada disana. Paginya aku ubah rute, yang seharusnya ke bekasi dulu menjadi ke slipi dulu karena lebih efektif dan dekat aku pulang dari bekasi. Akhirnya perjalanan sendirian dengan berbekal guide dari yang dituju, aku berani melakukannya, walaupun turun dari transportasi sejuta umatnya tersasar hehe…

Sampai slipi dan meneruskan kembali ke rawasari, menjemput sahabatku untuk menuju bekasi, akhirnya sampai bekasi jam setengah sembilan malam, laper mendera kami akhirnya kami makan tongseng ayam, hmm yummy…Malam itu menginap di kamar sahabatku tapi tidak dapat berbincang panjang lebar karena aku sudah ngantuk berat, aku di bekasi sampai minggu siang karena aku ditunggu di bandung jam 4 sore. Mustahil jam 4 sore itu aku bisa menepati janjiku, tapi mukjizat Allah ada disini, dari bekasi jam 2 siang dan aku menepi di terminal leuwi panjang jam 1/2 4 dan akhirnya berhasil menepati janji jam 4 sore, alhamdulillah.

Ketika akan menuju rumah, aku memutuskan naik bus kota jurusan leuwi panjang-ledeng, mengenang saat-saat aku pertama kali menggunakan bus kota ini dengan sahabatku dulu ketika tahun pertama tinggal di bandung, dulu tarif Rp 1600 dan sekarang setelah 8 tahun, tarif itu hanya menjadi Rp 2000, sungguh murah :) . Dan akhirnya aku sampai rumah pukul 7 malam.

Perjalanan terindah walaupun terasa bermimpi. Dan akhirnya aku pun dapat mengalahkan traumaku. Makasih buat saudara-saudaraku di jabotabek yang sudah bersedia membantuku. Miss u all.

Conspiracy in Death and Judgement in Death

Serial novel detektif pembunuhan, Eve Dallas, memang sudah sejak lama aku ikuti. Bermula dari pertemuanku dengan salah satu saudariku, adikku yang hebat anak Kelautan ITB. Dia menceritakan tentang novel ini, waktu itu baru sampai seri keempat. Dan aku sangat tertarik dengan teka-teki dan teknik pemecahan misteri dalam novel ini sehingga akhirnya aku pun hunting dan mulai berburu untuk membaca novel-novel karya J.D.Robb ini. Dan fantastik, ternyata aku sangat suka tokoh utamanya, Eve Dallas, seorang Letnan dari Divisi Pembunuhan yang selalu detail dan gigih membela para mayat korban pembunuhan. Bahkan mereka yang mati selalu hadir dalam setiap mimpinya.

Setelah adikku itu kembali ke Bogor, aku sudah lama tidak mengikuti novel terjemahan ini lagi walaupun sempet beberapa kali melihat sudah ada seri terbarunya ketika aku ngeceng di gramedia. Sudah lama aku merasa hobbiku membaca dalam semalaman terlupakan, akhirnya karena galau akhirnya tepat di tanggal 12 April 2011, aku menghadiahi diriku dengan membeli dua buah novel “Conspiracy in Death” dan “Judgement in Death”. Wah semakin penasaran untuk segera tahu misteri, teka-teki, dan step pengungkapan pembunuhan di kedua novel tersebut. Aku beres membaca kedua novel tersebut pada 23.42 tanggal 20 April 2011, lumayan lama karena memang pelatihan terhadap hobbi bacaku sudah lama tidak terasah. Tapi ya gpp, 8 hari untuk kedua novel itu termasuk waktu yang cepat.

Summary “Conspiracy in Death”:

Ketika membaca novel ini, aku benar-benar tersindir sampai terharu membacanya, karena kasus dan kejadian yang dialami Eve Dallas sangat mirip denganku, atau setidaknya aku mirip-miripin hehe…

Eve Dallas sedang mendapat perintah untuk menangani kasus pembunuhan seorang gelandangan yang ginjalnya diambil dengan sangat rapi oleh ahli bedah yang sangat ahli membedah sehingga tidak ada darah yang mengalir. Teka-teki dimulai dan Eve mendedikasikan dirinya untuk memecahkan kasus ini. Ketika berada di TKP pertama, Eve sempat bentrok dengan Bowers, polisi jalan yang menemukan mayat tersebut. Bowers yang memang tidak suka dengan Eve sejak dari akademi polisi dulu, sengaja akan membuat pengaduan tentang perilaku Eve, dan akan menggores catatan karir Eve dengan tinta merah. Setelah pembunuhan pertama ini, muncullah pembunuhan kedua, jantung pendamping berlinsensi diambil di apartemennya. Motif pembunuhan sama, sangat rapi seperti operasi bedah kelas satu. Sampai terjadi pembunuhan ketiga dan Bowers kembali terlibat di TKP. Puncak ketegangan cerita ini adalah ketiga pengaduan Bowers tentang Eve ditindaklanjuti oleh departemen dan akhirnya dengan kasus yang mendekati terungkap, Eve dengan berdarah-darah harus menyerahkan Lencana dan Senjatanya sebagai polisi. Eve, yang sudah menganggap Lencana itu sebagai jati dirinya, ketika dia dapat menjadi orang, direbut, dia menjadi bukan siapa-siapa, dia pulang dengan tatapan kosong ke rumahnya dan melarikan diri dengan tidur selama 30 jam. Eve tidak mau bangun dan beraktivitas sampai Roarke, suaminya, mengingatkannya bahwa Lencana itu hanya simbol, dirinya tak akan berubah menjadi sosok yang lemah tanpa Lencana tersebut. Akhirnya Eve bangkit, dengan dukungan Roarke, Pabody, Feeney, McNab, dan Dr.Mira. Sampai akhirnya Eve tetap pelanjutkan penyelidikannya tanpa Lencana dan dia berhasil mengungkap siapa dalang dibalik semua pembunuhan tersebut. Di akhir cerita, Eve mendapatkan kembali Lencana dan Senjatanya.

Summary “Judgement in Death”

Di seri ini, kasus pembunuhannya 3 orang polisi yang digerakkan oleh Ricker, seorang mafia narkoba. Kurang begitu rame karena teka-tekinya kurang menggelitik.

Kado Spesial

14 April adalah hari lahirku ke dunia. Tidak ada yang spesial dan cha tidak merayakannya, tetapi tetap saja berharap ada perhatian-perhatian dari orang-orang yang sayang ke cha. Memang betul-betul hanya orang tersayang yang mengetahuinya. Ucapan pertama dari kakak 00.05 “Met ultah ade” “Semoga tetap istiqomah dan terus berkarya…amin”, ada doa yang berkurang dari tahun lalu :( , trus ade-adeku tercinta di bandung yang menuntut traktiran, bu dhe, kak djay, ron ron, mamah, ade kecilku dan sampai malem aku menunggu perhatian dari sahabat terbaikku yang tak kunjung datang, akhirnya dia sms pukul 23.49 “Kali ini gw pengen jd yg terakhir. Menutup hari spesialmu. Selamat ulang tahun cinta!Smg semua kebaikan yg gw ingat darimu, tetap berada dlm seorang echa” amin…dan kejutannya adalah kado spesial ini

Sungguh jadi terharu…lebay ya cha, kurang tuh disebutin dalam kado spesial itu phi :p

* ada kado spesial lagi, baru nemu hari ini di other messages FB “Happy birthday Echa Cha”  arghh!!! kenapa disana kirimnya? hampir-hampir cha sedih krn terlupakan

Tersenyumlah!!!

Hari ini harus tersenyum!!! Azzam di pagi ini ditemani pasha yang bernyanyi untukku :) .  Memulai hari ini dengan tersenyum, semoga hari ini akan indah dan positif amin. Walaupun mata bintit tapi senyum harus tetap mengembang. Mari kita list faktor-faktor yang akan membuatku tidak tersenyum hari ini :

  • Mendekati akhir kuartal dengan prestasi 0 ( wow kemana aja aku ini ya?  :( )
  • Tak dipeduliin ma yang berjanji “u can count on me” (wew berdarah-darah neh)
  • Charger HP ketinggalan sehingga sepertinya hari ini ga akan bisa nyanyi-nyanyi di tengah hiruk pikuk jalan.
  • Belum menyiapkan bahan ngajar nanti sore.
  • Email yang mengingatkanku kapan diskusi bareng team.
  • Harus survei ke inventory
  • Harus terjalani 2 proses ta’aruf.
  • ERD yang belum diselesaikan dan besok deadline!
  • LMS yang kebingungan harus diisi dengan content apa.
  • E-learning dan Perpus OL yang belum ditengok lagi.
  • Persiapan training BI ke jakarta.
  • Di-ambekin orang gara-gara salah ngomong.
  • Kebodohan bertanya kepada orang yang super sibuk

Wow banyak banget ya…waduh hp mati lagi, diriku mati juga neh. Arghh!!! harus tetap tersenyum agar energi positif berpihak kepadaku. Bahkan kemaren aku ditanya “Kenapa sekarang cha begitu ya? “, suer cha ga bisa menjawab pertanyaan ini, bahkan cha juga bingung apa yang sedang terjadi sekarang, mayat hidupkah?

Ingin rasanya berlari…(lebay.com), justru harus dihadapi bukan lari cha!!! Semangat!!!

Sampai CCM dikomplen status kekaryawananku huhu…

Akhirnya aku bisa tersenyum disana

Hari ini, 21 Maret 2011, aku mengunjungi kampus tercintaku ITB dan bahagia banget rasanya bertemu dengan beberapa teman perjuanganku disana, Mas Zano, Mas Litmalem, Mas Iwan, Mas Syafaat dan yang ga disangka ternyata aku bertemu Teh Mira juga, bahagianya…

Aku sebenarnya hanya berniat bertemu Mas Zano karena ada sedikit urusan. Aku sampai di kampus pukul 12.44, walaupun aku diguyur hujan dan jaketku ternyata basah kuyup, kemudian aku sholat di mushola STEI, dan terkenanglah masa-masa aku sholat dan beristirahat disana bersama teman-teman perempuan dari kelasku. Indah… :)

Setelah sholat, aku duduk di dekat UPT Bahasa Labtek VIII, eh ternyata ada serombongan teman-temanku dari Riau, Mas Litmalem, Mas Iwan, dan Mas Syafaat, dan mulailah mereka menyapaku dan bercanda :

Mas Litmalem : “Mba mo ujian TOEFL ya?”

Cha : ” Iya mas, mo masuk kuliah angkatan 2011 neh”

Mas Iwan : “Ah yang projectnya dah banyak mah ga usah kuliah, beda dengan kami penerima beasiswa” #suerr miris tapi aku tetap bahagia

Cha :”Semester ini tugas-tugasnya banyak ya mas?” Kerenlah pada sibuk dan tetep semangat!!!”

Mereka :” Iya cha, coba ada cha tambah rame tuh #secara biang keramaian di kelas hehe”

Cha :”Hebatlah, sukses terus ya mas, semangat!!!”

Mereka :”Cha dah makan belum, ayoo makan bareng”

Cha :”Belum sih tapi lagi nunggu Mas Zano neh”

Mereka :”Ya udah kami duluan mba”

Cha :”Okay”

Dan saat inilah aku sadari aku bisa tersenyum bahagia disana. Setelah itu Mas Zano datang dan kami menuju Ruang Tesis Labtek V. Mas Zano menceritakan kesibukan-kesibukannya kuliah di semester ini dan aku bahagia dengan cerita-ceritanya. Makasih ya mas…

Tak disangka, pintu ruangan itu dibuka dan muncullah Teh Mira, wow…senengnya melihat ibu muda yang satu ini, sainganku waktu itu hehe…kami berkangen-kangenan sejenak dan aku bertambah bahagia bertemu dengan Teh Mira ini.

Aku pun mengcopy semua materi kuliah mereka semester ini dan dapat bonus juga aku mengcopy film2 dari Mas Zano, hihihi…

Akhirnya aku bisa tersenyum disana, menerima takdir ini dengan indah, bukannya aku tak mampu berjuang disana tapi Allah belum mentakdirkanku ada disana…semangat!!!

 

Welcome to the jungle

Miris memang melihat semua sistem kemasyarakatan yang ada di negeri ini. Susah merubah suatu sistem jika cuma kita sendiri yang berusaha merubahnya. Sistem harus dilawan dengan sistem juga. Karena ternyata jika individu ingin melawan sistem hasilnya individu tersebut yang akan terbawa ke dalam arus sistem yang salah yang ada. Whatever, yang penting urusanku beres walaupun hati ini berontak menyaksikan sistem yang begitu parah ini tapi karena ini sistem yang salah aku tak peduli, beginilah jungle yang ada di negeri ini. Berbagai macam slogan-slogan, undang-undang, dan kampanye digembor-gemborkan tapi tetap saja oknum-oknum didalamnya tidak tersentuh oleh upaya-upaya tersebut. Ya Allah sungguh bodoh masyarakat ini ya…

9 tahun yang lalu…kemandirian ini dimulai

Ternyata sudah 9 tahun terlalui, kangen…

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.