Archive for August, 2009

Sahabat Terbaik bagi Diri

Sebagian dari kita mungkin menghayati situasi hidup sangat sulit dan melemahkan semangat, seperti sakit serius, kehilangan pekerjaan, ditinggalkan pasangan, dilecehkan dan dianggap gagal oleh orangtua, atau menghadapi jalan buntu di dunia kerja. Menyesali diri

Sahabat diri sendiri

Ketika diperlakukan buruk oleh orang lain, ditipu, terhambat mencapai tujuan, mengalami sakit serius, gagal, dipersalahkan untuk kejadian buruk yang dialami, sangat wajar kita menghayati rasa tidak terima dan marah, mungkin kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Sering kemarahan yang tidak dapat, tidak boleh, atau tidak ingin kita ekspresikan ke luar akan menjadi bentuk kemarahan yang kuat pada diri sendiri. Kita makin terpuruk ketika orang terdekat tidak memberi penguatan, tetapi malah menyalahkan, menghindar (setelah kita kehilangan harta benda), bahkan merendahkan.

Untuk yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat negatif seperti M, meski ada kebencian besar kepada orangtua, mungkin kuat pula kemarahan kepada diri (”ibuku benar, aku goblok dan jelek”, ”masak aku tidak dapat memaafkan orangtua sendiri?”, ”bahkan yang melahirkanku malu dengan kehadiranku”).

Mungkin kita melakukan kesalahan dan kebodohan, atau sedikit banyak punya andil terhadap yang terjadi. Baik bila kita mengakui itu dengan jujur, tetapi tidak ada gunanya terus menyalahkan diri.

Satu cara adalah dengan berpikir tentang ”sahabat terbaik”. Sahabat adalah orang yang sungguh peduli dan menyayangi sekaligus dapat berperan mengingatkan. Ia bisa jadi orangtua kita, guru, teman kerja, nenek, tante, sepupu, atau yang lain. Bersyukurlah yang punya sahabat nyata seperti itu.

Untuk yang merasa tidak memiliki, jangan putus harapan. Ajukan pertanyaan kepada diri sendiri, ”Seandainya aku memiliki sahabat yang sangat aku sayangi dan ia mengalami masalah sama dengan yang aku alami, aku akan bagaimana?” Pertanyaan ini biasanya akan membantu kita berpikir lebih jernih: peduli, ingin membantu, tidak menyalahkan, tetapi juga jujur dan berupaya menjadi penyeimbang.

Misalnya, ”Aku akan bilang kepada dia untuk tidak menyalahkan diri, menangis beberapa hari, setelah itu bangkit lagi. Aku akan mengingatkan sisi positif dirinya. Aku jujur bilang, menurutku orang yang dia cintai bukan orang baik yang perlu dipertahankan. Ditinggalkan mungkin terasa berat awalnya, tetapi bila terus bersama, malah akan lebih menderita untuk jangka panjang.”

Dalam sesi konseling saya kemudian bertanya lebih lanjut, ”Seandainya sahabat Mas bilang begitu, reaksi Mas bagaimana?” Ia menjawab, ”Orang lain tidak merasakan sakitnya. Tidak ada orang yang mengerti saya. Kalau tidak mengalami sendiri, pasti akan bilang begitu.” Saya desak lagi, ”Jadi, ada atau tidak kebenaran kata-katanya?” Ia terdiam lama, lalu menjawab, ”Ada. Memang kenyataannya harus begitu. Saya juga akan bilang begitu kepada orang yang saya sayangi. Dia harus mampu melewati kesulitannya.”

Bila Anda terus didera kemarahan, kesedihan, terganggu fungsi hidup sehari-hari, atau banyak berpikir bunuh diri, Anda butuh bantuan profesional. Bagaimanapun, masalah sesulit apa pun semoga dapat ditemukan jalan keluarnya bila kita dapat menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri. Tetap menyayangi diri meski salah atau tak sempurna menjadi prasyarat kebahagiaan. Kesalahan biarlah menjadi pembelajaran agar kita lebih bijaksana menata masa depan.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/08/31/10432598/Sahabat.Terbaik.bagi.Diri

Dia membutuhkanku

Ya Allah, tenangkanlah pikiranku ya Allah, semoga tidak terjadi hal-hal yang fatal yang akan merusak shaumku hari ini amin.
Ya Allah, dia membutuhkanku, semoga aku selalu ada dan selalu bisa mendukungnya amin.
Teruslah melangkah, masa depan adalah misteri, optimislah menatapnya!!!

Kita Butuh Ramadhan

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan keberkahan yang Allah wajibkan kepada puasa di dalamnya. Dalam bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan di dalamnya, maka ia telah luput dari banyak kebaikan.” (H.R. Ahmad)

Syukur kepada Allah kita masih dipertemukan dengan bulan yang sangat mulia dan berharga untuk meraih pundi pahala yang tak terbatas. Kita semua sangat membutuhkan datangnya bulan penyucian diri ini. Ramadan datang dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Ia datang membawa berita gembira untuk seluruh alam. Ramadan datang untuk mencuci hati hamba-hamba yang berdosa. Ia juga datang untuk mengangkat derajat para hamba yang berbakti semakin tinggi dari sebelumnya.

Ramadan adalah bulan yang Allah pilih untuk menjadi saat turunnya kitab dan risalah-Nya. Ia adalah bulan penghubung antara langit dan bumi. Saat rahmat tercurah dengan lebat, maghfirah mengucur bagai air bah, cahaya terpancar berpendar-pendar ke segala penjuru, dan kebaikan memancar di setiap menit dan detiknya.

Dalam bulan ini, disyariatkan ibadah puasa yang mempunyai banyak sekali keutamaan. Puasa mempunyai pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh luar dan kekuatan batin di dalam. Puasa juga menjaga dipengaruhi hal-hal yang buruk yang dapat merusak jiwa. Puasa dapat mengangkasakan jiwa menuju ketinggian akhlak, kehalusan budi, keindahan pekerti, kematangan pribadi, kepekaan rasa, dan penghambaan yang seutuhnya kepada Sang Pencipta.

Puasa membebaskan diri dari gurita nafsu yang mengajak kepada hal-hal yang rendah. Ia juga menjadikan jiwanya merdeka dari lilitan nafsu syahwat dan kebinatangan yang bercokol kuat dalam diri. Dengan berpuasa seorang hamba dapat memperkecil jalannya setan dalam aliran darah, mengubah rasa ego menjadi cinta dan kasih sayang, rakus menjadi ridha dan qana’ah, liar menjadi sabar, tenang dan terarah. Maka jadilah kebahagiaan dirinya tidak lagi terbatas pada pemuasan syahwat semata. Tidak sekedar memuaskan kebutuhan jasmaninya yang tak pernah berujung. Namun lebih dari itu, ia menikmati kenikmatan yang tiada tara dalam dirinya. Ketenangan dan kedamaian jiwa yang luar biasa dan selalu bersamanya kemanapun ia berada. Itulah kelezatan iman yang dapat membawanya kepada bahagia abadi sepanjang masa. Ibnu Abdil Barr berkata: “Cukuplah pernyataan Allah “Ash-Shaumu Li” menjadi keutamaan puasa dibanding ibadah-ibadah lainnya.”

Tentang puasa ini , Ibnul Jauzi berkata: “Puasa itu ada tiga macam: Puasa rohani yaitu dengan tidak banyak berangan-angan, puasa akal yaitu dengan menentang hawa nafsu dan puasa anggota tubuh dengan menahan diri dari makan, minum dan berhubungan badan”

Ramadan adalah waktu terapi intensif memperbaiki dan menjernihkan hati. Ibadah puasa, shalat tarawih, infak dan sedekah serta segenap ibadah yang diperintahkan disyariatkan didalamnya merupakan rangkaian program perbaikan diri dan masyarakat.

Saat-saat ramadan ini juga adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kekuatan menahan keinginan dan perasaan, kesetiaan dalam ucapan, kesejatian dalam sikap, dan ketabahan dalam melaksanakan komitmen yang sudah diputuskan. Bila saat Ramadan kita kalah, maka bersiaplah untuk kalah di bulan-bulan selanjutnya.

Dikutip dari : http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/umarulfaruq-abubakar-mahasiswa-pasca-sarjana-al-azhar-kairo-kita-butuh-ramadhan.htm

Menangis Karena Takut pada Allah

Malam itu -Kamis, 27 Agustus 2009- mesjid al-Majid yang terletak di belakang kantor Konsuler KBRI Kairo masih terlihat sepi. Baru shaf pertama yang telah dipenuhi orang-orang. Mereka nampak asyik membaca al-Qur`an. Sebagian mereka tengah khusyuk dalam shalat. Alhamdulillah, masih ada tempat duduk yang kosong di pojok kiri shaf pertama. Segera saya menuju tempat itu.

Seorang pemuda Mesir, Ahsan-nama samaran- tengah larut dalam lantunan ayat-ayat Allah. Ia terlihat begitu khusyuk. Saya awalnya ingin menyapanya, tapi niat itu saya tahan, saya tidak ingin mengganggunya.

Usai shalat sunnah tahiyyatul masjid, sayapun membuka mushaf, melanjutkan bacaan al-Qur`an saya. Begitu nikmatnya terasa di rumah Allah, ketika ayat-ayat-Nya dibaca, ketenangan menyapa jiwa.

Tanpa terasa, azan Isya berkumandang merdu. Membelah kota Kairo. Suaranya memanggil setiap jiwa untuk segera datang ke rumah Allah. Sebagian orang-orang yang telah datang ke mesjid berdiri mengerjakan sunnah qabliyah Isya, sebagian lain, masih larut melantunkan kalam-kalam Allah. Ahsan saya perhatikan tidak beranjak, ia seolah telah terbenam dalam samudera ayat-ayat sang Khaliq. Jiwanya seakan terikat akan keindahannya. Ia masih membaca al-Qur`an.

Tak berapa lama kemudian, iqamah dikumandangkan. Syaikh Usamah, sang Imam tampil ke depan memimpin shalat Isya, dan selanjutnya shalat tarawih.

Ini adalah malam pertama saya shalat di mesjid al-Majid. Dulu, saya hanya sering mendengar suara indah Syaikh Usamah melalui pengeras suara, ketika saya sempat lewat di tempat itu. Namun, malam itu Allah perkenankan saya shalat di mesjid tersebut, alhamdulillah.

Memang benar, suara syaikh Usamah begitu merdu. Bacaannya fasih, makhraj dan tajwidnya begitu bersih. Sempurnalah keindahan itu. Hati saya tersentuh, jiwa saya tergugah, dan iman saya terbangkitkan. Rasa kantuk yang mencoba datang menghinggap di pelupuk mata menjadi sirna. Saya terpesona dan terbenam dalam keindahan bacaan dan kemerduan suara syaikh Usamah. Tak salah jika banyak orang yang memilih shalat tarawih di mesjid al-Majid. Walau setiap malam, bacaannya satu juz`, tapi itu tak lah berat, karena keindahan bacaan syaikh Usamah menjadikan satu juz` terasa ringan.

Ayat demi ayat dilantunkan penuh merdu. Hati seolah diaduk-aduk oleh keindahan ayat-ayat Allah. Ada rasa cinta yang begitu menguasai hati. Ada rasa rindu yang tak tertahankan pada sang Khalik. Ada rasa takut yang begitu menghantui ketika dibacakan ayat-ayat tentang azab-Nya.

Ahsan shalat di samping kanan saya. Terkadang terdengar oleh saya isak tangisnya. Ia begitu meresapi setiap ayat yang dibaca syaikh Usamah. Ia begitu paham. Ia seakan telah tenggelam dalam samudera firman-firman Allah. Ia sering kali menangis. Bahkan tangis itu sulit untuk ia tahan ketika syaikh Usamah membaca ayat-ayat (yang artinya) : “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat. Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-A`raf [7] : 40-41).

Tangisnya semakin pecah ketika Syaikh Usamah melantunkan ayat-ayat selanjutnya, “Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.” (Yaitu) Orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A`raf[7] : 50-51)

Kisah Ahsan mengingatkan saya pada kisah Rasulullah Saw dengan Abu Mas`ud ra.. Suatu kali, Rasulullah Saw. meminta Abu Mas`ud r.a untuk membacakan pada beliau al-Qur`an. Berkata Abu Mas`ud, “Wahai Rasulullah apakah saya akan membacakan untukmu al-Qur`an sedangkan ia diturunkan padamu? Rasulullah menjawab,” Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.”

Lalu Abu Mas`ud membaca surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat, “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” (QS. An-Nisa`[4]: 41), beliau berkata, “Cukup”, kemudian Abu Mas`ud menoleh pada Rasulullah dan ia melihat air mata Rasulullah jatuh berderai. (Muttafaq `Alaihi)

Suatu ketika Rasulullah Saw. berkhutbah di hadapan para sahabat, beliau bersabda,” Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian para sahabat menutup wajah mereka dan mereka menangis. (Muttafaq `Alaihi)

Dalam sebuah hadits beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, “Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut pada Allah Swt. sehingga air susu kembali masuk ke dalam puting…” (H.R Tirmidzi)

Sabda beliau juga, “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Swt. pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantara mereka itu adalah; seorang laki-laki yang mengingat Allah Swt. dikala sendiri kemudian mengalir deraslah air matanya.” (Muttafaq `Alaihi)

Abu Bakar r.a dikenal sebagai seorang sahabat al-bakka` yaitu orang yang sering menangis. Aisyah r.a berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang hatinya lembut, apabila ia membaca al-Qur`an ia selalu menangis.”

Dari Abu Umamah Shuday bin `Ajlan al-Bahiliy r.a Nabi Saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah dari dua tetesan. Beliau menyebutkan, satu diantaranya adalah tetesan air mata yang keluar karena takut pada Allah Swt.” (H.R Tirmidzi)

Begitu banyak hadits-hadits Rasulullah Saw. dan kisah as-salaf as-shalih yang menerangkan tentang keutamaan menangis karena takut pada Allah Swt.

Nah, bagaimana dengan diri kita? Setiap diri lebih mengetahui keadaannya masing-masing. Sudah seberapa banyakkah air mata kita menetes ketika mengingat Allah Swt? Ketika sendiri mengingat dosa dan kesalahan, ketika menyadari telah sering lalai dari perintah Allah Swt? Sudah seberapa seringkah air mata kita tumpah ketika membaca ayat-ayat Allah Swt? Ketika diingatkan dengan kematian dan dengan siksa Allah Swt.?

Sungguh tangisan Ahsan merupakan tangisan yang Allah Swt. cintai. Tangisan seperti ini akan semakin mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah Swt.

Dari saat ini mari kita mempertimbangkan air mata yang keluar, jangan sampai keluarnya air mata karena kita tidak mendapatkan keinginan hawa nafsu, jangan sampai kita menangis karena kebatilan. Bijak dalam mengeluarkan air mata merupakan pertanda jernihnya hati dan benarnya iman seorang hamba.

Mari kita menangis karena takut pada Allah Swt., mari kita berlatih untuk menangis ketika membaca ayat-ayat Allah Swt. Menangis bukan selamanya tanda cengeng, tapi tangisan yang keluar karena kebaikan adalah pertanda kebesaran jiwa, tanda kesadaran akan hakekat diri yang sesungguhnya, tanda cinta yang tulus dan tanda seorang mengenal Tuhannya. Moga kita tidak malu menangisi dosa-dosa dan kesalahan kita selama ini.

Wallahu a`lam bish-showab.

Salam cinta dari Kairo,

marif_assalman@yahoo.com

www.marifassalman.multiply.com

Dikutip dari : http://eramuslim.com/oase-iman/menangis-karena-takut-pada-allah.htm

Tubuh ini meminta haknya

Dua hari ini, tubuh ini meminta haknya, cha ga bisa begadang selalu bobo cepet karena emang dah 10 hari begadang terus dan belum tercukupi hak tubuh ini, Ya Allah bukannya aku ga adil tapi aku ingin memaksimalkan waktu yang aku punya, karena aku tak tahu besok masih milikku kah?

Ya Allah ampunilah hambaMu ini!!! Berilah kemudahan dan kelancaran semuanya ya Allah amin…

Something Inside

When the one thing you’re looking for
Is nowhere to be found
And you back stepping all of your moves
Trying to figure it out
You wanna reach out
You wanna give in
Your head’s wrapped around what’s around the next bend
You wish you could find something warm
‘Cause you’re shivering cold
It’s the first thing you see as you open your eyes
The last thing you say as your saying goodbye
Something inside you is crying and driving you on
It’s the first thing you see as you open your eyes
The last thing you say as your saying goodbye
Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me
I would have found you
I would have found you

So long you’ve been running in circles
‘Round what’s at stake
But now the times come for your feet to stand still in one place
You wanna reach out
You wanna give in
Your head’s wrapped around what’s around the next bend
You wish you could find something warm
‘Cause you’re shivering cold
It’s the first thing you see as you open your eyes
The last thing you say as your saying goodbye
Something inside you is crying and driving you on
It’s the first thing you see as you open your eyes
The last thing you say as your saying goodbye
Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me
I would have found you
I would have found you

It was your first taste of love
Living upon what you had

It’s the first thing you see when you open your eyes
The last thing you say as your saying goodbye
Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me
I would have found you
I would have found you
I would have found you
I would have found you

Degradasi Semangat

Hufffh, ternyata ga selamanya cha selalu semangat menghadapi hidup ini ya, seperti saat ini, cha justru bingung mo ngapain padahal skripsi menunggu untuk diselesaikan tapi cha lom dapet-dapet referensi mengenai kompleksitas, masih mencari dan mencari yang terkadang menyebabkan ga istiqomah malah menyimpang dari tujuan mencari referensi huffh… :( , belum lagi dua pekerjaan menanti tapi malah bingung darimana memulai. Inilah ruginya kalo jadi orang yang sistematis, terarah dan detail. Ketika salah satu tidak terpenuhi malah jadi bingung sendiri ga bisa bergerak dan memulai (halah bahasana, padahal lebih tepat disebut anak bandel :D ). Akhirnya cha hanya memilih sms-an dan curhat di sini, ya semoga dengan menuangkan isi hati jadi biar membangun konsentrasi kembali dan bisa membangkitkan semangat yang mulai memudar.

Ternyata benar ya, kalo perempuan itu susah fokus dan bisa berbagai konsentrasi, cha banget itu :) .
Kenapa begitu egois ingin menyelesaikan semuanya dalam satu waktu padahal ga mungkin kita bisa dalam satu waktu mengerjakan lebih dari satu pekerjaan. Haduhhh, help me please, what should I do now?Gimana cara menyelesaikan ini semua ya? harus ada orang yang selalu mengawasiku dan memberikan motivasi terus agar aku selalu maju. Kenapa semuanya jadi begini? kenapa selalu terkukung diri sendiri? kenapa, kenapa dan kenapa yang selalu menghantui padahal jalani saja semuanya, setelah membuat planning-planning yang jelas dan terorganisir. Chayoo Cha!! Bimbingan hari ini apa ya? bingung dech, ternyata cha juga harus banyak belajar, belajar, dan belajar lagi. Ga boleh menyerah karena kelemahan dan keterbatasan Cha!

Ayoo cha susun lagi langkah-langkahmu! Sukses itu dah di depan mata, optimislah dan semangatlah untuk segera menyelesaikannya, agar engkau bisa meneruskan perjuangan-perjuangan hidup yang lain.

Ngantuk!

Perkataan dan keluhan rutin dari Cha setiap hari neh, ga tau kenapa tapi emang sudah menjadi kebiasaan bahwa ngantuk selalu datang mengisi hari-hari Cha. Apalagi akhir-akhir ini, Cha selalu begadang dan bobo setelah jam 12. Ya Alhamdulillah badan ini dikuatkan oleh Allah untuk menjalaninya. Karena target Cha ramadhan ini harus tercapai, Cha harus lulus tahun ini amin. Hari ini juga datang kerjaan baru yang menuntut waktu sebulan untuk dikerjakan, huff, ya Allah mudahkanlah dan kuatkanlah amin.

Masih ada juga sisa dari pekerjaan bulan Juli kemaren yang masih ditagih untuk diselesaikan padahal udah beres Cha kerjainnya, tinggal testing dengan data yang sebenarnya. Ya beginilah nasib jadi seorang kuli, harus banting tulang demi sesuap nasi hihi…kapan ya Cha bisa jadi managernya? :)

Kenapa pula rindu ini menyusup, mencoba memudarkan konsentrasi yang Cha bangun dari pagi? Cha memang lemah, tapi ga boleh menyerah. Perjalanan hari ini masih panjang, masih harus begadang, masih harus meniti karir, masih harus kuliah, masih harus yang lainnya juga hufffhhhh semangat Cha!!! Enjoy your life!!!!
Mimpi semalem juga aneh banget, buah tidur yang membuat Cha kesiangan neh, kenapa mereka bisa masuk ke mimpiku? :D

5 ramadhan…kesiangan bangun sahur :(

Ya Allah hari ini cha kesiangan bangun sahurnya, padahal dah set alarm jam 3 tapi terlewat dan penelpon setia dah menelpon tapi tetep aja ga bangun, pas bangun liat jam tersentak kaget “hah, jam 04.09″ artinya tinggal 18 menit lagi, belum sholat witir wah buru-buru dech, tapi ga boleh panik karena akan berakibat fatal :) …alhamdulillah akhirnya masih sempet makan walaupun sedikit dan bisa tetep banyak minum. Semoga shaum hari ini tetap sempurna amin :)

Puasa, Surga, dan Pengorbanan

Thalhah bin Ubaidillah adalah salah satu dari sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga. Kaum muslimin menggelarinya dengan ‘Asy Syahidul Hayy’ (Syahid yang hidup), dan Rasulullah menjulukinya dengan ‘Thalhah Al Khair’ (Thalhah yang baik), atau ‘Thalhah Al Jaud’ (Thalhah yang pemurah), dan ‘Thalhah Al Fayyadh’(Thalhah yang dermawan).

Setiap nama julukan itu mempunyai latar belakang kisah sendiri-sendiri. Adapun nama julukan ‘Asy Syahid Hayy’ (Syahid yang hidup), diperolehnya dalam perang Uhud. Ketika barisan kaum muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari samping Rasulullah, perajurit muslim yang tinggal di dekat beliau hanya sebelas orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari kaum Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke sebuah bukit, tetapi beliau dihadang oleh ratusan kaum musyrikin yang hendak membunuhnya.

Maka bersabda Rasulullah, “Siapa yang berani melawan mereka, maka dia menjadi temanku kelak di surga.”

”Saya, ya Rasulullah!” kata Thalhah.

”Tidak! Jangan engkau! Engkau harus tetap di tempatmu!” Rasulullah memerintahkan.

”Saya, ya Rasulullah!” kata seorang sahabat Anshar.

”Ya! Engkau!”kata Rasulullah.

Perajurit Anshar itu maju melawan prajurit musyrikin, sehingga prajurit Anshar gugur karena membela nabinya. Rasulullah terus naik, tetapi dihadang pula oleh tentara musyrikin. Kata Rasulullah, “Siapa yang berani melawan mereka ini?”

”Saya, ya Rasulullah!” kata Thalhah mendahului yang lain-lain.

”Tidak! Jangan engkau! Engkau tetap di tempatmu!” kata Rasulullah memerintah.

”Saya, ya Rasulullah!” kata seorang prajurit Anshar.

”Ya! Engkau! Maju!” kata Rasulullah.

Prajurit Anshar itu maju melawan tentara musyrikin, sehingga dia gugur pula. Demikianlah seterusnya, setiap Rasulullah meminta pahlawannya untuk melawan tentara musyrikin, Thalhah selalu mengajukan diri, tetapi senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkannya tetap di tempat, dan memberi peluang prajurit Anshar, sehingga sebelas orang prajurit Anshar gugur semuanya menemui syahid. Maka tinggallah Thalhah seorang.

Kata Rasulullah kepada Thalhah, “Sekarang engkau, hai Thalhah!”

Dalam perang itu, Rasulullah mengalami patah taring, kening dan bibirnya luka, sehingga darah mengucur di muka beliau, dan beliau kepayahan. Karena itu Thalhah menerkam musuhnya dan menghalau mereka sekuat tenaga, supaya mereka tidak dapat menghampiri Rasulullah. Kemudian Thalhah kembali ke dekat Rasulullah, lalu dinaikkannya beliau sedikit ke bukit, dan disandarkannya ke tebing. Sesudah itu kembali menyerang musuh, sehingga dia berhasil menyingkirkan mereka dari Rasulullah.

Abu Bakar dan Abu Ubaidillah bin Jarah ketika itu sedang berada agak jauh dari Rasulullah. Ketika mereka tiba untuk membantu Rasulullah Saw, beliau berkata, “Tinggalkan aku! Bantulah Thalhah, kawan kalian!”. Mereka menjumpai Thalhah penuh dengan lumuran darah yang mengalir dari seluruh tubuhnya. Di tubuhnya terdapat tujuh puluh sembilan luka bekas tebasan pedang, atau tusukan lembing, dan lemparan panah. Pergelangan tangannya putus sebelah, dan dia terbaring di tanah dalam keadaan pingsan.

Rasulullah bersabda sesudah itu mengenai Thalhah, “Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah!”. Demikian pula bila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar Shiddiq, maka Abu Bakar berkata, “Perang hari itu adalah peperangan Thalhah keseluruhannya.”

Begitulah kisahnya, sehingga Thalhah dijuluki ‘Asy Syahidul Hayy’(Syahid yang hidup). Adapun sebabnya bergelar ‘Thalhah Al Khair’ atau ‘Thalhah Al Jaud’, salah satu latar belakang kisahnya adalah sebagai berikut:

Thalhah adalah pedagang besar. Pada suatu sore hari dia mendapat untung dari Hadhramaut kira-kira 700 000 dirham. Malamnya dia ketakutan, gelisah dan risau. Maka ditanya oleh istrerinya Ummu Kaltsum binti Abu Bakar Shiddiq, “Mengapa Anda gelisah, hai Abu Muhammad, Apa kesalahan kami sehingga Anda gelisah?”

Jawab Thalhah, “Tidak! Engkau adalah isteri yang baik dan setia! Tetapi ada yang terfikir olehku sejak semalam, seperti biasanya pikiran seseorang tertuju kepada Tuhannya bila dia tidur, sedangkan harta ini bertumpuk di rumahnya.”

Jawab isterinya, Ummu Kalthum, “Mengapa Anda begitu risau memikirkannya. Bukankah kaum Anda banyak yang membutuhkan pertolongan Anda. Besok pagi bagi-bagikan uang itu kepada mereka.”

Kata Thalhah, “Rahimakillah. (Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!). Engkau wanita beroleh taufiq, anak orang yang selalu diberi taufiq oleh Allah.” Pagi-pagi, dimasukkannya uang itu ke dalam pundi-pundi besar dan kecil, lalu dibagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Dikisahkan pula, seorang laki-laki pernah datang kepada Thalhah bin Ubaidillah meminta bantuannya. Hati Thalhah tergugah oleh rasa kasihan terhadap orang itu. Lalu katanya, “Aku mempunyai sebidang tanah pemberian Uthman bin ‘Affan kepadaku, seharga 300.000 dirham. Jika engkau suka, ambillah tanah itu, atau aku beli kepadamu 300.000 dirham.”

Kata orang itu, “Biarlah aku terima uangnya saja.” Lalu Thalhah memberikan kepadanya uang sejumlah tiga ratus ribu.

Kisah Thalhah memberikan banyak pelajaran dan hikmah, utamanya berkait dengan rahasia sebab-sebab beliau termasuk seorang sahabat yang dijamin dengan surga.
Agaknya, beliau pantas mendapatkan surga karena beliau telah membelinya dengan harga yang tidak murah. Lihatlah pengorbanan beliau ketika berusaha menyelamatkan Rasulullah Saw dalam perang Uhud itu. Sungguh merupakan suatu pengorbanan jiwa yang luar biasa. Luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing, dan lemparan panah sebanyak 79 titik itu dan putusnya pergelangan tangan sebelah adalah saksi penyerahan jiwa beliau secara total untuk membela Rasulullah Saw dan meraih keridhoan-Nya.

Demikian halnya dengan pengorbanan harta yang beliau persembahkan. 700.000 dirham (Rp 24,5 Milyar, dengan asumsi 1 dirham=Rp 35.000) adalah bukan jumlah yang sedikit. Beliau pun dengan ringan menyumbang secara spontan sebesar 300.000 dirham (Rp 10,5 Milyar) ketika ia tergugah membantu orang yang datang kepadanya. Saya tidak bisa membayangkan sumbangan sebesar apa yang beliau persembahkan untuk perjuangan Rasulullah Saw yang dicintainya.

Di hadapan kita kini terbentang suatu bulan mulia bernama Ramadhan. Setiap orang beriman mendambakan keridhoan dan surga-Nya sebagaimana bunyi doa yang sering terlantunkan: “Allahumma inna nas-aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wan naar”. Boleh jadi, yang patut menjadi renungan kita adalah adakah pantas kita mengharapkan surga sementara pengorbanan kita di dalam bulan Ramadhan begitu minim dan teramat sedikit. Di bulan Ramadhan kita banyak tidur dan bermalas-malasan atau justru larut dalam kesibukan dunia yang melalaikan. Kita kedodoran mengkhatamkan 30 juz Al Quran. Kita hadir di masjid hanya di hari-hari awal dan akhir dari Ramadhan saja. Kita melewatkan keberkahan waktu sahur dengan tayangan TV dibanding memperbanyak qiyam dan berdoa. Dan kita lebih suka menerima daripada memberi termasuk memberi makanan kepada orang-orang yang berpuasa. Sungguh andai keimanan kita dibanding dengan Sahabat Thalhah, jauh dan teramat jauh.

Semoga kisah Thalhah bisa melejitkan potensi diri untuk berkorban secara maksimal di bulan Ramadhan. Ramadhan tidak memiliki nilai apapun dan tidak akan berdampak apapun andai setiap diri tidak mau berkorban menghidupkan detik-detik harinya.

Waallahua’lam bishshawaab

http://eramuslim.com/oase-iman/puasa-surga-dan-pengorbanan.htm

« Previous entries