Serial novel detektif pembunuhan, Eve Dallas, memang sudah sejak lama aku ikuti. Bermula dari pertemuanku dengan salah satu saudariku, adikku yang hebat anak Kelautan ITB. Dia menceritakan tentang novel ini, waktu itu baru sampai seri keempat. Dan aku sangat tertarik dengan teka-teki dan teknik pemecahan misteri dalam novel ini sehingga akhirnya aku pun hunting dan mulai berburu untuk membaca novel-novel karya J.D.Robb ini. Dan fantastik, ternyata aku sangat suka tokoh utamanya, Eve Dallas, seorang Letnan dari Divisi Pembunuhan yang selalu detail dan gigih membela para mayat korban pembunuhan. Bahkan mereka yang mati selalu hadir dalam setiap mimpinya.
Setelah adikku itu kembali ke Bogor, aku sudah lama tidak mengikuti novel terjemahan ini lagi walaupun sempet beberapa kali melihat sudah ada seri terbarunya ketika aku ngeceng di gramedia. Sudah lama aku merasa hobbiku membaca dalam semalaman terlupakan, akhirnya karena galau akhirnya tepat di tanggal 12 April 2011, aku menghadiahi diriku dengan membeli dua buah novel “Conspiracy in Death” dan “Judgement in Death”. Wah semakin penasaran untuk segera tahu misteri, teka-teki, dan step pengungkapan pembunuhan di kedua novel tersebut. Aku beres membaca kedua novel tersebut pada 23.42 tanggal 20 April 2011, lumayan lama karena memang pelatihan terhadap hobbi bacaku sudah lama tidak terasah. Tapi ya gpp, 8 hari untuk kedua novel itu termasuk waktu yang cepat.
Summary “Conspiracy in Death”:
Ketika membaca novel ini, aku benar-benar tersindir sampai terharu membacanya, karena kasus dan kejadian yang dialami Eve Dallas sangat mirip denganku, atau setidaknya aku mirip-miripin hehe…
Eve Dallas sedang mendapat perintah untuk menangani kasus pembunuhan seorang gelandangan yang ginjalnya diambil dengan sangat rapi oleh ahli bedah yang sangat ahli membedah sehingga tidak ada darah yang mengalir. Teka-teki dimulai dan Eve mendedikasikan dirinya untuk memecahkan kasus ini. Ketika berada di TKP pertama, Eve sempat bentrok dengan Bowers, polisi jalan yang menemukan mayat tersebut. Bowers yang memang tidak suka dengan Eve sejak dari akademi polisi dulu, sengaja akan membuat pengaduan tentang perilaku Eve, dan akan menggores catatan karir Eve dengan tinta merah. Setelah pembunuhan pertama ini, muncullah pembunuhan kedua, jantung pendamping berlinsensi diambil di apartemennya. Motif pembunuhan sama, sangat rapi seperti operasi bedah kelas satu. Sampai terjadi pembunuhan ketiga dan Bowers kembali terlibat di TKP. Puncak ketegangan cerita ini adalah ketiga pengaduan Bowers tentang Eve ditindaklanjuti oleh departemen dan akhirnya dengan kasus yang mendekati terungkap, Eve dengan berdarah-darah harus menyerahkan Lencana dan Senjatanya sebagai polisi. Eve, yang sudah menganggap Lencana itu sebagai jati dirinya, ketika dia dapat menjadi orang, direbut, dia menjadi bukan siapa-siapa, dia pulang dengan tatapan kosong ke rumahnya dan melarikan diri dengan tidur selama 30 jam. Eve tidak mau bangun dan beraktivitas sampai Roarke, suaminya, mengingatkannya bahwa Lencana itu hanya simbol, dirinya tak akan berubah menjadi sosok yang lemah tanpa Lencana tersebut. Akhirnya Eve bangkit, dengan dukungan Roarke, Pabody, Feeney, McNab, dan Dr.Mira. Sampai akhirnya Eve tetap pelanjutkan penyelidikannya tanpa Lencana dan dia berhasil mengungkap siapa dalang dibalik semua pembunuhan tersebut. Di akhir cerita, Eve mendapatkan kembali Lencana dan Senjatanya.
Summary “Judgement in Death”
Di seri ini, kasus pembunuhannya 3 orang polisi yang digerakkan oleh Ricker, seorang mafia narkoba. Kurang begitu rame karena teka-tekinya kurang menggelitik.









